Prioritas : Karena Memilih Adalah Keniscayaan

"Apakah orang-orang yang memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan ibadah haji dan mengurus Masjid al-Haram, kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah; dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum Muslim yang zalim. Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan." (QS. At-Taubah : 19-20)

Prioritas, kata yang tidak dapat dipisahkan ketika ada benturan kepentingan. Keterbatasanlah yang akhirnya memaksa kita untuk membuat prioritas. Namun keterpaksaan membuat prioritas bukanlah suatu hal yang buruk, mengingat kewajiban kita memang lebih banyak dari waktu yang tersedia. Penulis teringat cerita tentang seorang profesor yang mengatakan bahwa bila kita melakukan hal-hal kecil yang sepele, kita akan kehilangan kesempatan untuk melakukan hal-hal utama yang besar. Profesor itu mengilustrasikan dengan ember, air, pasir, kerikil dan batu kali. Jika ember tersebut diisi dengan pasir sampai penuh, maka kerikil dan batu kali tidak dapat masuk. Namun jika ember tersebut diisi dengan batu kali sampai penuh, kemudian kerikil sampai penuh, baru pasir dan terakhir air, maka semua komponen tersebut dapat dimasukkan ke dalam ember.

Berbicara tentang prioritas dalam pandangan Islam, sepertinya tidak terlepas dari fiqh aulawiyat (fiqh prioritas)nya Yusuf Qardhawi yang membagi fiqh aulawiyat ke dalam beberapa bagian, yaitu prioritas kualitas atas kuantitas, prioritas ilmu atas amal, prioritas pemahaman atas hapalan, prioritas maksud dan tujuan atas penampilan luar dan prioritas persoalan mudah dan ringan atas sulit dan sukar. Sedangkan prioritas terkait amal adalah prioritas perbuatan istiqomah atas amalan besar tapi hanya sesaat saja, prioritas perbuatan yang luas manfaatnya atas perbuatan kurang manfaatnya, prioritas yang manfaatnya lama atas perbuatan yang manfaatnya sebentar, prioritas amalan hati atas amalan badan.


Selanjutnya, prioritas yang diperintahkan oleh agama adalah prioritas pokok agama atas cabang agama, prioritas fardhu atas sunnah, prioritas fardhu ‘ain atas fardhu kifayah, prioritas hak hamba atas hak alloh, prioritas hak masyarakat atas hak individu dan prioritas loyalitas pada masyarakat atas loyalitas kabilah atau individu. Sedangkan dalam bidang reformasi lebih prioritas memperbaiki diri atas memperbaiki sistem dan prioritas pembinaan sebelum jihad

Penulis tidak coba mengulas tentang isi buku tersebut, hanya menyoroti betapa penentuan prioritas begitu penting. Pemilihan prioritas yang salah bisa jadi masalah. Seperti teguran Allah kepada Rasulullah dalam surat Abasa yang lebih memprioritaskan pemuka Quraisyi ketimbang seorang laki – laki buta. Sebaliknya, pemilihan prioritas yang tepatpun sarat maslahat. Seperti kisah kaum Anshar yang memilih Rasulullah dibandingkan harta rampasan perang yang melimpah. Dalam kehidupan keseharian, prioritas ini menjadi begitu penting karena ia dekat dengan keadilan, meletakkan sesuatu pada tempatnya. Dalam beramal shalihpun juga perlu prioritas sehingga amalan yang dilakukan adalah yang unggul, karena luasnya ladang amal tak memungkinkan kita untuk melakukannya semua. Dalam menimbang manfaat dan mudharat suatu urusanpun tak terlepas dari prioritas.

Realitanya kadang memang sungguh ironi. Betapa banyak golongan yang berbangga dengan banyaknya jumlah tanpa memperhatikan kualitas. Betapa banyak orang yang berjuang hanya bermodalkan semangat tanpa landasan ilmu. Betapa banyak orang yang lebih memperhatikan kulit daripada isi. Betapa banyak golongan yang mempertentangkan hal-hal sepele dengan melupakan hal-hal yang lebih besar. Dan kitapun juga mungkin masih banyak berkutat dengan hal yang kurang prioritas, padahal kewajiban kita begitu banyak sedangkan waktu hidup kita terbatas. Dan setiap pilihan prioritas, akan dimintai pertanggungjawabannya.

Prioritas tak dapat dihindarkan, karena keberadaannya bukan untuk dihindarkan melainkan untuk dipilih. Pilihan yang cerdas, yang dapat mendatangkan kebermanfaatan luas. Pilihan yang bijak yang meminimalisir kemudharatan yang mungkin timbul. Pilihan yang mungkin tidak ringan karena kadang harus mengorbankan sesuatu yang lebih sesuai dengan nafsu kita. Dan karena hidup adalah pilihan, maka hadapilah pilihan prioritas itu dengan dada terbuka. Dan karena hidup adalah pilihan, maka pilihlah dengan bijak, agar tidak menyesal kelak.

Wallahu a’lam bishawwab

Nb : terinspirasi dari kultum ketua KM Etos Bandung pas monev, 2 Mei 2009. Terima kasih telah memprioritaskan tim etos pusat

No comment »

DIBALIK 6666 AYAT ALQUR’AN

“Maka tidakkah mereka mentadabburi Al Qur’an, ataukah hati mereka sudah terkunci?”
(QS. Muhammad : 24)

“Mengapa banyak muslim percaya begitu saja bahwa Al Qur’an terdiri dari 6666 ayat?”. Pertanyaan itu beberapa hari ini tertera di status facebook penulis. Ada yang menanggapi langsung, lewat wall, bahkan bertanya via chat. Memangnya ayat Al Qur’an berapa banyak sih? Selama beberapa tahun ini, dalam beberapa kesempatan penulis menanyakan hal tersebut, dan sebagian besar menjawab dengan mantap : 6666 ayat. Baik di sekolah, di kampus, bahkan di Aceh yang katanya serambi Mekkah sekalipun juga menjawab dengan angka yang sama.

Satu dasawarsa lalu saya coba menghitungnya dan hasilnya mengejutkan, hanya 6236 ayat, bahkan setelah dihitung ulang. Jika ditambah basmalah sebanyak 112 ayat, jumlahnyapun baru 6348 ayat, masih jauh dari jumlah 6666 ayat. Kemudian ada yang coba berargumen mengenai kekurangan 430 ayat tersebut dengan berbagai pembenaran. Ada juga yang mengaitkannya dengan angka 666 yang diyakini sebagian orang sebagai angka setan. Tapi sesuai dengan judul diatas dan pertanyaan pada status, saya tidak hendak mempersoalkan jumlah ayat Al Qur’an, namun lebih menganalisa mengapa angka 6666 itu begitu dalam tertanam.

Dalam hemat penulis, ada dua hal yang utama menjadi penyebabnya. Pertama, pola pembinaan dan pendidikan kita yang masih top down, mendidik untuk taklid, berpikir sederhana, tidak merangsang pola berpikir kritis dan ilmiah. Karenanya pula, berbagai pemalsuan sejarah begitu sukses di negeri ini. Informasi satu arah dari suatu sumber langsung dipandang sebagai kebenaran. Tidak heran jika ada barisan siap mati untuk membela satu figur atau kelompok yang sebenarnya tidak lepas dari kesalahan. Tidak heran orang berbondong – bondong mendatangi anak ajaib atau pohon sakti. Pola pendidikan dan pembinaan yang tidak mencerdaskan. Ya, jadi 6666 ayat itu ada karena guru ngaji kita dulu bilang begitu, guru agama kita bilang begitu, buku yang kita baca menuliskan begitu… lagipula angka 6666 itu fantastis dan mudah diingat… dan kita langsung mempercayainya.

Kedua, interaksi kita dengan alqur’an masih minim. Jangankan untuk menghitung jumlah ayatnya, membacanyapun jarang. Padahal semakin sering berinteraksi dengan Al Quran, kita bisa menyadari jika ada bacaan yang salah atau terlewat walau kita tidak hapal ayat tersebut bahkan kita bisa hapal urutan surat dalam Al Qur’an tanpa menghapalnya. Artinya bukan tidak mungkin kita bisa menyadari bahwa ayat Al Qur’an tidak sebanyak itu. Atau paling tidak kita tertarik untuk coba menghitungnya. Lain halnya jika Al Quran tidak ada di hati kita dan menjadi sesuatu yang asing, tidak berarti. Jika kita mengambil uang kita di bank, setelah menerimanya, kita akan menghitung ulang. Bukan tidak percaya pada alat penghitung uang, tapi lebih kepada tingkat kebermaknaan uang itu bagi kita. Ya, jadi 6666 ayat itu ada karena kita tidak peduli berapa jumlah ayatnya, toh tidak berarti apa – apa bagi kita.

Alangkah ironisnya jika memang benar dua hal tersebut yang menjadi latar belakang mengapa banyak muslim yang mempercayai bahwa Al Qur’an terdiri dari 6666 ayat. Hmm, jadi teringat ‘Generasi Qur’ani yang Unik’ yang dijelaskan dalam buku “Ma’alim fi ath-thariq” tentang bagaimana cara pandang dan penyikapan “generasi awal” terhadap Al Qur’an. Yah, sepertinya memang harus ada persepsi yang diluruskan… agar umat ini tercerdaskan… agar umat ini merdeka… agar umat ini kembali ke masa kejayaannya…

Wallahu a’lam bishawwab

No comment »

MENGENANG SEJENAK PERJALANAN

Mulanya, kuanggap mudah perjalanan ini. Dengan idealisme seorang remaja, kusambut hangat uluran tangan mereka yang ramah mengajakku. Pada awalnya, aku belum memahami sepenuhnya arti perjalanan ini. Begitupun arti perjumpaan dengan Yang Maha Agung, yang konon merupakan puncak kebahagian manusia.

Agaknya, kekurangpahaman ini menyebabkan banyaknya rekan seperjuanganku yang mengurungkan niat. Atau mereka segera merasa letih, atau memilih jalan lain yang tampaknya lebih menjanjikan kemudahan, namun tiada terganggu. Sementara jalan dihadapanku semakin menanjak dan menyempit. Dan waktupun terus berlalu… aku dan yang lainnya terus melangkah, terseret-seret. Tak terasa sudah seperempat abad usiaku. Dan kini makin kupahami tabiat jalan yang telah kupilih ini.

Entah sudah untuk yang keberapa kali lutut ini bergetar. Nafas pun mulai terlengal. Kadang kujumpai seseorang berdiri ditengah jalan. Ia tampaknya tidak menyukai kehadiranku. Tapi aku harus melewati jalan itu. Dengan segenap kemampuan, kuhadapi ia. Terkadang saudara - saudaraku tidak tinggal diam membiarkanku berkelahi sendiriaan.

Entah sudah berapa kali aku tersungkur. Orang bilang, aku terlalu ringkih untuk menuntaskan seluruh perjalanan. Tapi aku tidak peduli. Masih melekat kepercayaanku. Ia yang akan kujumpai di sana senantiasa akan memberikan kekuatan gaibNya kepadaku.

Kini di hadapanku berdiri angkuh tebing terjal. Tanahnya coklat basah. Ada jalan setapak. Di pinggirnya ada semak - semak liar, yang menatap kami dengan masam. Sementara dari sudut mataku, dapat kutangkap adanya jalan lain yang jauh lebih mudah. Tak ada tanah licin yang menantiku tergelincir. Tak ada semak berduri yang akan mengejek. Jalannya pun lapang dan teduh. Tapi aku tak mau menatap itu. Kupertajam tatapanku kearah tebing itu tadi. Samar kulihat jejak-jejak kaki orang sebelumku. Namun terkadang tak kudapati adanya jejak sama sekali.

Dan babak baru perjalanan kami mulai. Setiap langkah harus diperhitungkan dengan cermat. Salah pijak, hampir pasti tergelincir. Terpaksa kuakui kalau nyali ini agak menciut. Namun kututupi sedapatnya. Aku pun terus melangkah naik.

Ah…, seorang saudaraku tergelincir, tepat di sebelahku ! Kuulurkan tangan menahan lajunya. Tapi terlalu berat. Dengan pasti aku turut terseret. Namun, ia tak berusaha untuk turut naik. Sementara pijakkanku semakin tak pasti. Dengan berat kuputuskan untuk melepaskan peganganku. Ia mengerti. Ia mengerti kalau aku paham keberaniaannya telah luruh. Ia ingin segera menuju jembatan yang memisahkan jalan kami dengan jalan yang lebih ramah, walau entah menuju kemana…

Bahkan sempat terdengar kabar, terhentinya perjalanan salah seorang saudaraku, yang dulu turut membimbingku melewati masa - masa awal perjalanan. Dan semakin banyak saja yang mengikuti jejak mereka !

* * *

Di setiap jalur yang kami tempuh, ada tempat - tempat peristirahatan sejenak. Tempat kami melepaskan segala keluh kesah dan keletihan. Biasanya, Ia akan menurunkan seorang pembantuNya untuk menghibur kami, orang - orang yang mendambakan perjumpaan denganNya. Disini aku bisa menangis sejadinya. Menghimpun keberanian, guna melanjutkan langkah.

Robbku telah kupenuhi panggilanMu, membawa tubuh ringkih ini, melewati jalan yang Kau kehendaki. Telah kulepas segenap yang aku mampu untuk mengatasi beratnya medan penghalang. Telah kucoba kuatasi, sedapatnya, panasnya hari - hari yang kulewati.

Namun ampuni aku, ya Robbi. Betapa sering hamba tertegun ragu untuk melanjutkan perjalanan yang panjang ini. Semuanya memang dikarenakan kelemahan hati ini yang masih berharap mencicipi kenikmatan duniawi.

Kini pun hati yang peragu ini masih diguncang kegundahan. Akankah Kau terima buah karya tangan lemah ini ? Akankah Kau hargai ? Apabila saat ini masih juga mengharapkan wajah lain selain wajahMu ? Jika masih juga kuharap senyum lain selain senyumMu ? Jika masih kudamba pujian lain selain dari pujianMu ? Betapa semakin berat persangkaanku akan kesia-siaan amalanku, jika kuingat Engkau Maha Pencemburu !

Ada kudengar jalan lain yang jauh lebih sulit dari yang kini kutempuh. Orang-orang yang melewati adalah orang - orang perkasa dengan nyali melebihi singa, Mereka mempertaruhkan segalanya., harta, nyawa sekalipun. Mereka menyakini dan merasakan meregangnya nyawa dari tubuh justru mempercepat perjumpaan dengan Sang Kekasih.

Ada terpikir olehku untuk pula melewati jalan itu. Namun aku cukup arif untuk menyadari, betapa diri ini tidak layak disejajarkan dengan mereka. Siapalah aku ini, dibandingkan mereka yang senantiasa bersimbah peluh dan debu, untuk membuktikan kecintaan kepadaNya ? Betapa lancangnya aku, mengukur diri dengan mereka yang menghabiskan malam - malamnya dengan sujud tersungkur, mengharapkan ampunan dan cintaNya. Dan akupun harus bersabar…

Kupandangi tanah datar dihadapanku. Di sana satu sisinya ada lembah yang terus menyatu dengan kaki gunung. Perlahan kudengar gemericik air kali. Kuseret langkah kesana. Gemericik suara dedaunan dan kerikil serangga ilalang menemani kesunyianku. Kulepas alas kaki dan kugulung celana panjang. Hati - hati kumasukkan kaki kekebeningan air. Terus menuju ketengah - tengah arus. Kuresapi dan kunikmati kesejukannya. Kuusap wajah dan kepala dan segera kurasakan kesegaran yang luar biasa. Selanjutnya, aku telah tertunduk di sebongkah batu besar di tengah - tengah sungai.

Sejuta pikiran dan angan bersatu di benakku. Perjalanan panjang telah mengantarkanku kemari. Kuharap kesunyian tempat ini dapat meneduhkan gejolak panas di benakku.

Tapi, sampai berapa lama aku berada dalam kesunyian seperti ini ?!. Gunung diam dihadapanku justru mempertebal kebosananku. Kicauan burung yang ramai pun tak mampu menembus kekosongan hatiku. Kulihat sekelilingku. Sepi.

Aku harus segera berlari, kembali kerombonganku. Pesona tempat ini ternyata tak mampu mengobati hatiku yang sunyi. Aku harus bergabung bersama mereka, kembali melintasi semak berdiri. Seraya terus menetapkan angan, akan suatu tempat peristirahatan abadi. Akan suatu taman yang rindang, yang kaya akan aneka buah. Yang di bawahnya mengalir sungai-sungai…

Ps : Tulisan from someone 8 tahun lalu, teruntuk saudara/i ku yang kucintai karena Allah

Comments (1) »

DICARI : SDM BERKUALITAS PENYELAMAT BANGSA (3/3)

Menanti Lahirnya SDM Unggul melalui Pendidikan

Berbagai data di atas hanyalah sebagian kecil dari prestasi yang pernah tertoreh. Belum lagi berbicara tentang BJ Habibie, mantan presiden RI dengan hak paten baling – balingnya atau Prof Nelson Tansu PhD, fisikawan dan rekayasawan kelahiran Medan yang pada usia 25 tahun menjadi profesor termuda di wilayah East Coast, AS dengan berbagai prestasi akademiknya. Jelas dari sisi ’bibit’ personal bangsa Indonesia tak kalah berkualitas dengan bangsa lain. Potensi keunggulan sebenarnya dimiliki. Dilihat dari anggaran pengembangan IPTEKpun, setiap tahun alokasinya meningkat, walaupun memang belum optimal dalam pemanfaatannya. Namun permasalahan utama adalah terkait sistem yang ada dan diterapkan dipadu dengan mentalitas dan moralitas yang tidak unggul.

Menurut DR. Eric J. Heikkila, tiga aspek penting dalam HDI adalah kesehatan, pendidikan dan pendapatan. Hal serupa juga ditunjukkan dalam GBHN 1993, dimana manusia unggul yang dicita – citakan adalah yang sehat dan berumur panjang (indikator : life expectancy rate); cerdas, kreatif, terampil, terdidik, bertaqwa (indikator : tingkat pendidikan); mandiri dan memiliki akses untukhidup layak (indikator : kemampuandayabeli). Dilihat dari aspek kesehatan, berdasarkan data BPS 2007, Angka Kematian Bayi (AKB) dan Angka Kematian Ibu (AKI) Indonesia masih cukup tinggi, yaitu AKB sebesar 26,9 per 1000 kelahiran hidup dan AKI sebesar 248 per 100.000 kelahiran hidup serta Umur Harapan Hidup 70,5 Tahun (BPS 2007). Derajat kesehatan yang masih tendah tersebut dipengaruhi oleh akses untuk memperoleh layanan kesehatan, terutama bagi masyarakat miskin. Akses tersebut meliputi informasi, jarak, sarana dan biaya. Namun ketika berbicara tentang kualitas hidup sehat, ternyata pengetahuan dan kesadaran hidup sehat serta kondisi lingkungan menjadi faktor penting yang membentuk perilaku hidup sehat. Karenanya, layanan kesehatan promotif dan preventif perlu untuk terus dikembangkan.

Dilihat dari kesejahteraan sosial, kesenjangan masih menjadi masalah utama yang bermuara pada kelemahan pengelolaan sistem dan rendahnya moralitas. Di kelas atas terjadi rendahnya sensitifitas sosial dan tingginya keserakahan. Di kelas bawah terjadi kemiskinan kultural, bukan hanya miskin materi tetapi juga miskin jiwa. Sementara kebijakan dan birokrasi belum jua menjadi solusi.

Seperti yang diungkapkan B.S.Wibowo, manusia berkualitas adalah yang unggul secara fisik, intelektual, emosional dan moralitas. Perlu banyak pembenahan untuk mencetak SDM yang berkualitas, pembenahan yang terencana dan terintegrasi. Dan pendidikan memegang peran penting dalam pembenahan ini. Pembinaan fisik, intelektual, emosional dan moralitas yang integratif hanya dapat dijalankan dengan sistem pendidikan yang mendukung. Permasalahan pengetahuan, pemahaman, karakter dan mentalitas tidak dapat diselesaikan hanya dengan pemberian BLT, otokrasi kebijakan ataupun pendirian bangunan – bangunan fisik tanpa ruh. Bagaimanapun, pendidikan akan membentuk sikap dan daya juang serta kapasitas personal yang penting guna meningkatkan daya saing secara komunal.

Pendidikan merupakan proses memanusiakan manusia, yang harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi zaman. Karenanya pendidikan dapat diperoleh dimanapun, kapanpun dan oleh siapapun. Pendidikan berupa pembiasaan dapat diperoleh melalui keluarga. Pendidikan berupa pembentukan nilai-nilai, pengetahuan dan keterampilan terhadap bidang studi dapat diperoleh lewat sekolah/ lembaga pendidikan formal. Sedangkan pendidikan tentang pengalaman hidup dan penanaman serta pewarisan budaya diperoleh dari masyarakat. Kesemuanya harus saling melengkapi dan menguatkan.

Elemen penting dalam membentuk pendidikan berkualitas adalah pendidik, sistem pendidikan, lingkungan dan lembaga pendidikan. Pada dasarnya tidak ada bahan baku yang buruk, kesalahan pada prosesnyalah yang menyebabkannya jadi buruk. Bagaimanapun, tidak ada manusia yang tak memiliki potensi dan kelebihan, tinggal bagaimana pendidik, sistem pendidikan, lingkungan dan lembaga pendidikan dapat bersinergi dalam menghasilkan yang terbaik. SDM unggul hanya lahir dari rahim yang berkualitas.

Penyiapan pendidik yang berkualitas harus dilakukan untuk menghasilkan peserta didik yang berkualitas. Dalam konteks pendidikan, peserta didik biasanya mengadopsi mentalitas, pemikiran, pengetahuan, wawasan dan sikap dari pendidiknya. Dilihat dari sisi pendidik, penyiapan ini berarti refleksi keikhlashan niat, semangat dan kesungguhan. Dilihat dari sisi lembaga pendidikan, penyiapan ini dapat berarti pembekalan dan penghargaan. Sedangkan dari sisi pemerintah, penyiapan ini terkait dengan apresiasi dan kesejahteraan.

Sistem pendidikan yang berkualitas harus dilaksanakan untuk membentuk SDM unggul. Sistem pendidikan yang jujur dan berkeadilan. Sistem pendidikan yang memiliki visi bukan dijalankan seadanya. Sistem pendidikan yang mencerdaskan bukan membodohi, menyenangkan bukan membebani. Sistem inilah yang akan memberikan arah dan membentuk karakter pandidikan. Karenanya sistem pendidikan harus integratif agar dapat memberikan pemahaman yang utuh, namun memfasilitasi bakat dan potensi pembangun kompetensi yang mungkin lebih spesifik. Sistem pendidikan yang lebih manusiawi. Sistem yang tak hanya mengukur kualitas dengan IQ tapi juga emosional dan moral. Sistem pendidikan yang tidak hanya berupa proses peningkatan kemampuan pengetahuan intelektual dan teknologi, tetapi juga harus memiliki prinsip dan nuansa perkembangan kebudayaan dan peradaban.

Lingkungan memegang peranan penting dalam pembentukan karakter guna mewujudkan SDM berkualitas. Pembinaan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat melalui penyadaran, pemahaman dan partisipasi menjadi penting dalam upaya peningkatan kualitas masyarakat. Pengondisian lingkungan ini hendaknya dimulai dari level keluarga sebagai madrasah pendidik generasi, untuk kemudian dikembangkan ke lingkup yang lebih besar. Pendidikan harus memasyarakat. Mendidik masyarakat dan memasyarakatkan pendidikan.

Selanjutnya, impian besar takkan dapat terwujud tanpa kerja sama dan pengorganisasian. Dalam hal inilah lembaga pendidikan memegang peran penting dalam mencetak SDM unggul. Karena lembaga akan mengorganisasikan peserta didik, pendidik, merode dan sistem pendidikan dengan tidak melupakan variabel lingkungan. Visi besar pendidikan yang akan membawa kebermanfaatan lebih besar seharusnya dapat terinternalisasi ke selurih lembaga pendidikan sehingga dapat berperan sebagai mitra yang saling berkompetisi dalam berprestasi.

Pendidikan yang berkualitas akan memastikan berjalannya semua fungsi dan peran komponen penyusunnya dengan seimbang. Peran pendidik sebagai teladan dan akademisi. Peran peserta didik sebagai entiti perbaikan masa depan dan kaum intelektual. Peran lembaga pendidikan sebagai penyemai dan penyebar gagasan, pendapat dan pemikiran; sebagai penyebar kemajuan ilmu dan peradaban; sebagai penyemai potensi keilmuan dan kepemimpinan; sebagai penjaga moral bangsa dan pembela masyarakat.

Penutup : Bukan Sebatas Angan

Peningkatan pengetahuan dan pembinaan mentalitas memang butuh effort keras, bamun hasilnyapun akan sebanding dengan perjuangan yang dikeluarkan. Perbaikan pendidikan mungkin akan menghadapi banyak kendala, namun bukan jadi alasan untuk mundir dari cita – cita mulia. Pembentukan SDM berkualitas memang tidak semudah membalikan telapak tangan, namun hal itu dapat dan harus dilakukan untuk masa depan yang lebih baik. Perbaikan menyeluruh memang tidak akan mudah, apalagi upaya perusakan terus terjadi. Amal nyata memang tak semudah kata, apalagi sebatas angan. Namun tak ada impian yang tak dapat diwujudkan. Jika realita dapat mengalahkan impian, tak ada alasan impian tak dapat merubah kenyataan.

Segalanya harus diawali dengan kejernihan hati dan pikiran untuk kemudian didudkung dengan keberanian untuk berbuat. Kesungguhan dan kerja cerdas akan menjadi syarat selanjutnya untuk mencapai apa yang diimpikan. Mungkin masih banyak evaluasi lain yang dapat dipelajari serta solusi yang dapat direkomendasikan untuk membentuk pribadi dan komunitas berkualitas. Tentang kesabaran dan keteguhan, perencanaan matang, kepemimpinan yang adil, berkarakter dan dapat jadi teladan hingga menjadi pribadi yang solutif dan produktif. Namun berbagai pembelajaran dan rekomendasi itu tidak akan sempurna tanpa upaya konkret perbaikan. Sudah cukup lama bangsa ini terhina dan disepelekan, saatnya menaklukan dunia. Dan tidak ada kata terlambat untuk melakukan perbaikan. Melakukan perbaikan atau Indonesia tinggal kenangan, mungkin itulah dua pilihan takdir yang ada di depan. Membawa misi perbaikan memang tidak mudah karena sifatnya yang unik dan butuh energi besar dari para pengusungnya.

Namun kita percaya bahwa perbaikan akan menimbulkan ekspektasi dan harapan yang muncul karena getaran-getaran emosi kemenangan. Kemenangan yang memang harus ditebus dengan pemahaman, keikhlashan, amal nyata, kesungguhan, pengorbanan, kedisiplinan, keteguhan, kemurnian, persaudaraan dan kepercayaan. Dan pengorbanan yang sudah dilakukan tidak akan sia-sia. Dan kepuasan batin akan menjadi suatu ganjaran yang layak atas segala kelelahan. Dan akhirnya hanya kepada Allah lah segala sesuatu akan dikembalikan. Siap? Saya siap! Ayo kita berangkat!!

Jika Anda menetap di suatu tempat untuk beberapa hari saja, mulailah belajar menanam padi.

Jika Anda berfikir menetap untuk jangka waktu lebih panjang lagi, mulailah menanam pohon.

Jika Anda berpikir menetap selama-lamanya, mulailah dengan mendidik manusianya.

(Confusius)

Wallahu a’lam bi shawwab

No comment »

DICARI : SDM BERKUALITAS PENYELAMAT BANGSA (2/3)

Pentingnya SDM Berkualitas

SDM adalah modal dasar pembangunan yang terdiri atas dimensi kuntitatif yaitu jumlah dan struktur penduduk, serta dimensi kualitatif yaitu mutu hidup penduduk. Disamping itu, SDM juga merupakan faktor dominan yang harus diperhatikan dalam penyelenggaraan pembangunan guna memperlancar pencapaian sasaran pembangunan nasional yaitu antara lain kualitas manusia dan masyarakat Indonesia dan penguasaannya terhadap IPTEK, serta disiplin nasional yang merupakan perwujudan kepatuhan dan kepada hukum dan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat.

Kualitas SDM merupakan faktor penentu keberhasilan pembangunan dan kemajuan suatu bangsa seperti telah dibuktikan oleh berbagai negara, diantaranya Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Hongkong dan Singapura. “Kebangkitan Ekonomi Asia” yang telah berhasil mendorong kemajuan ekonomi secara spektakuler tersebut tidaklah bertumpu pada kekayaan alam yang melimpah ataupun ketersediaan tenaga kerja murah, melainkan pada kualitas SDMnya. Dalam rangka mengejar ketertinggalan, peningkatkan kualitas SDM harus diarahkan pada penguasaan IPTEK, informasi dan keahlian manajerial sehingga perlu diberikan prioritas utama pada upaya memperkuat basis pendidikan. Investasi human capital akan berdampak besar terhadap pertumbuhan ekonomi di masa mendatang. Pertumbuhan ekonomi yang disebut oleh Bank Dunia sebagai the East Asian Miracle di negara-negara yang disebut “Macan Asia” itu, justru dikarenakan mereka berhasil dalam investasi human capital-nya.

Karenanya, pembangunan SDM Indonesia diarahkan pada potensi, inisiatif dan daya kreasi setiap warga yang dikembangkan sepenuhnya dalam batas-batas yang tidak merugikan kepentingan umum; pemanfaatan, pengembangan dan penguasaan IPTEK dalam penyelenggaran pembangunan yang dapat meningkatkan kesejahteraan dan nilai tambah pembangunan; dan kesejahteraan rakyat yang senantiasa memperhatikan bahwa setiap warga negara berhak atas taraf kesejahteraan yang layak serta berkewajiban ikut serta dalam uapaya mewujudkan kemakmuran rakyat.

Kemajuan suatu bangsa berbanding lurus dengan tingkat pendidikan penduduk, tingkat kesehatan penduduk, usia harapan hidup, tingkat pendapatan penduduk dan pemerataan pendistribusian kesejahteraan. Hal – hal tersebut tidak berdiri sendiri, semakin tinggi tingkat pendapatan suatu keluarga, misalnya, semakin mampu pula keluarga tersebut menjaga kesehatannya dan meningkatkan pendidikan anggota keluarganya. Setelah itu, dengan semakin tingginya tingkat pendidikan dan kesehatan, semakin tinggi pula produktifitas dan kemampuan untuk meningkatkan pendapatan.

Suatu bangsa dapat dikatakan semakin mandiri bila bangsa tersebut semakin mampu mewujudkan kehidupan yang sejajar dan sederajat dengan bangsa lain dengan kekuatan sendiri. Salah satu syarat yang harus terpenuhi adalah peningkatan kualitas SDM yang tercermin dari semakin banyak tenaga profesional yang mampu memenuhi tuntutan kebutuhan dan kemajuan pembangunannya. Intinya, kualitas SDM begitu penting, baik sebagai tenaga penggerak atau pelaku pembangunan maupun sebagai tujuan dan sasaran pembangunan nasional. Dengan kata lain, SDM sebagai inti pembangunan adalah merupakan salah satu input (faktor) yang menentukan keberhasilan pembangunan, maupun sebagai output atau yang ingin dihasilkan dari proses pembangunan nasional tersebut.

Masih Ada Harapan…

Prestasi anak bangsa di kancah Internasional sebenarnya cukup membanggakan. Sepanjang Juli 2008 saja tercatat berbagai prestasi yang diraih. Empat mahasiswa interface team ITB memenangi Rural Innovation Award dalam Imagine Cup 2008 dan siap dikirim belajar ke Microsoft Research Center di Bangalore, India. Tim Olimpiade Matematika Indonesia pada ajang olimpiade dunia di Madrid 10-22 Juli 2008 lalu berhasil meraih satu medali emas, lima perak dan tiga perunggu serta dua gelar honorable mention. Sementara itu, Tim Olimpiade Biologi Indonesia pada penampilan perdananya berhasil mendapat dua medali perak dalam Olimpiade Biologi Internasional ke-19 di Mumbai, India 13 -20 Juli 2008. Sebelumnya, pada tanggal 14 Maret 2008, dua tim mahasiswa Sekolah Tinggi Elektro dan Informatika ITB berturut–turut berhasil menyabet predikat Juara I dan Juara II lomba desain chip tingkat dunia di Okinawa, Jepang. The 11th LSI Design Contest itu bertema merancang chip untuk sistem keamanan yang disebut RSA encoder–decoder yang banyak dipakai oleh Industri teknologi informasi, termasuk internet dan ponsel.

Adrienne T Sulistyo dan Vici R Tedja, siswi kelas 3 IPA SMU Santa Laurensia, Alam Sutra, Tangerang berhasil meraih medali perak Olimpiade Proyek Lingkungan di Azerbaijan pada 1-6 April 2008 lalu setelah menemukan solusi sederhana dan murah untuk mengatasi limbah styrofoam yang tak terdaur ulang atau terurai dengan ekstrak kulit jeruk. Tak lama kemudian, dua rekannya Terrenz Kelly Tjong dan Lynn Kaat Kurniawan juga merebut medali perak pada ajang The 15th International Conference of Young Scientists, di Chernivtsi, Ukraina, 18-23 April 2008 lalu dengan penelitian ekstrak kulit buah manggis yang berpotensi efektif menjadi alat kontrasepsi atau KB bagi pria. Kevin Winata, Thomas A Nugraha Budi dan Tyas Kokasih keluar sebagai peraih medali emas, perak dan perunggu pada ajang Olimpiade Fisika Internasional di Mongolia pada 20-28 April lalu. Zefrizal Nanda Mardani menjadi peraih penghargaan tertinggi Olimpiade Astronomi Internasional di Ukraina pada Oktober 2007 lalu

Di bidang olahraga, selain bulutangkis, Indonesia juga menorehkan tinta emas pada Kejuaraan Dunia Catur Pelajar ke-3 di Yunani pada 28 April – 5 Mei 2007. Adalah Masruri Rahmat, anak supir Bajaj yangmenjadi juara 3 kelompok usia 11 tahun dan Farid Firmansyah yang menunggui gerobak rokok bapaknya yang mangkal di depan Sekolah Catur Utut Adianto berhasil menjadi juara 1 kelompok usia 15 tahun. Di bidang teknologi dan budaya, batik fractal yang diapresiasi sebagai pemenang Indonesia ICT Award 2008 untuk kategori e-tourism and e-culture telah menerapkan teori fractal untuk mengembangkan software batik dan mengantarnya go international dengan mengikuti 10th Generative Art International Conference di Milan.

No comment »

DICARI : SDM BERKUALITAS PENYELAMAT BANGSA (1/3)

“The only way we can beat the competition is with people” (Robert J.Eaton)

Pengantar : Negeri di Awan Itu…

Indonesia negeri yang memiliki banyak Sumber Daya Manusia (SDM), namun kualitas SDMnya masih lebih rendah dibandingkan negara-negara lain pada tahapan pembangunan yang setara, sehingga SDM justru menjadi problem utama megeri ini. Menurut laporan UNDP, indikator Human Development Index Indonesia masih jauh di bawah negara-negara ASEAN seperti Singapura, Brunei Darussalam, Thailand dan Malaysia. Apalagi jika dibandingkan dengan Jepang, Hongkong, atau Korea Selatan.

SDM negeri ini juga dikenal ’pemberani’, banyak aturan yang dibuat untuk dilanggar, banyak pula masalah coba diselesaikan secara jantan. Tak heran, aparat kepolisian mencatat selama semester satu 2008 kejahatan konvensional (pembunuhan, pemerkosaan, dan pencurian) meningkat sekitar 1,3 % dari 153.392 kasus menjadi 155.413 kasus di 2008. Kasus kejahatan terhadap negara seperti illegal logging dan illegal fishing meningkat 3,39 % dari 1.601 kasus pada periode yang sama tahun 2007 menjadi 1.657 kasus. Tindak pidana pada semester I tahun 2008 meningkat 0,38 %, dari 165.163 kasus pada 2007 menjadi 165.783 pada 2008. Selanjutnya, berdasarkan indeks persepsi korupsi, ketika negara tetangga, Singapura menjadi negara ’terbersih’ ke-4 dan Malaysia pada urutan 47, Indonesia terdampar di urutan ke-126.

Kesejahteraan masyarakatpun masih jauh api dari panggang. Pada tahun 2008, masyarakat di bawah garis kemiskinan sebanyak 34,96 juta (15,42% dari populasi). Pengangguran pada tahun 2006 sekitar 23,7 juta (10.45% dari populasi). Pada kenyataannya, angka ini bisa jadi lebih besar lagi mengingat distribusi pembangunan yang sangat belum merata di Indonesia. Walaupun berdasarkan data IMF, World Bank maupun CIA World Factbook, Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia ada di urutan le-15 dunia, namun dari sisi pendapatan per kapita, Indonesia hanya ada di urutan ke-115. Berdasarkan survey World Economic Forum untuk tahun 2007, Indonesia menempati peringkat 93 dari 131 negara dilihat dari keamanan dan perlindungan dalam menjalankan aktivitas bisnis dan peringkat 95 untuk kemudahan memulai bisnis. Jauh dibandingkan negara ASEAN lainnya bahkan lebih rendah dari Papua Nugini ataupun Mongolia.

Meskipun kesempatan belajar anak usia sekolah dasar di Indonesia sudah dapat disejajarkan dengan negara-negara tetangga, namun dalam hal mutu pendidikan masih tertinggal. Kesempatan belajar di tingkat SLTP, SLTA dan perguruan tinggi juga masih tertinggal dari negara lain. Misalnya, angka partisipasi SLTP, SLTA dan Perguruan Tinggi di Indonesia saat ini kira-kira sama dengan pencapaian Malaysia, Korea Selatan, Singapura dan Thailand 10-15 tahun yang lalu. Selain masalah rendahnya kesempatan belajar, juga dihadapi masalah mutu dan ketidakseimbangan antar bidang sains dan teknologi dengan bidang-bidang ilmu sosial. Di level perguruan tinggi, universitas di Indonesia masih belum ada yang masuk daftar ’top 200 world universities’, jauh jika dibandingkan universitas Jepang dan Hongkong yang sudah masuk 20 besar ataupun Singapura dan China yang sudah masuk 40 besar.

Tantangan Era Globalisasi

Globalisasi adalah proses perkembangan suatu kebudayaan yang mendunia. Globalisasi yang memacu kemajuan di bidang teknologi informasi, telekomunikasi, transportasi dan perdagangan bebas membawa dampak langsung terhadap berbagai bidang kehidupan. Dalam bidang ekonomi, perdagangan bebas yang makin melibatkan semua bangsa dan tidak mengenal sekat-sekat negara menjadikan kompetisi semakin ketat, tajam dan cenderung saling mengalahkan. Peluang pasar semakin besar. Kunci keberhasilan terletak pada daya saing bangsa dan kesiapan dalam memanfaatkan peluang dan memenangkan persaingan. Karena globalisasi digerakkan oleh dua kekuatan utama yaitu teknologi dan perdagangan, maka daya saing itu akan sangat bergantung pada kemampuan untuk menguasai teknologi dengan basis ilmu pengetahuan yang kuat dan kemampuan dalam membangun kelembagaan ekonomi yang efisien.

Di bidang sosial budaya, globalisasi menyebabkan terjadinya interaksi dan persentuhan nilai – nilai budaya antar berbagai bangsa yang beraneka ragam sehingga membuka peluang untuk saling menyerap nilai-nilai budaya asing dan terjadilah adaptasi nilai-nilai budaya. Adaptasi budaya asing tersebut bisa bermakna negatif ketika yang diserap justru nilai-nilai yang tidak selaras dengan nilai-nilai budaya bangsa sendiri, misalnya sikap materialistik, konsumeristik, hedonistik, individualistik atau sekularistik. Namun adaptasi budaya tersebut juga bisa bermakna positif bila mendorong masyarakat dan bangsa Indonesia untuk mengejar kemajuan, misalnya dengan nilai – nilai etos kerja, semangat berkompetisi, sikap kemandirian, disiplin, penghargaan terhadap waktu dan sebagainya.

Kompetisi global yang menjadi keniscayaan dari globalisasi ini mensyaratkan tersedianya SDM yang berkualitas dan berwawasan keunggulan yang akan menjadi faktor penentu dalam menghadapi persaingan. SDM ini dituntut untuk memiliki kemampuan profesional, teknis maupun manajerial yang tinggi serta daya cipta yang peka akan berbagai perubahan, dapat mengikuti sistem kontrol yang semakin ketat dengan meningkatkan disiplin dan etos kerja, serta siap menghasilkan karya besar dengan kerja kolektif/ tim. Saat ini, berdasarkan daya saing global, Indonesia hanya berada di peringkat 69, masih di bawah Malaysia (31) ataupun Thailand (34).

No comment »

BEJAJAR DARI DAUN

Sebaik-baik kamu adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain” (HR. Bukhari)

Daun adalah organ tumbuhan yang sangat penting dan menjadi ciri khas dari makhluk hidup bernama tumbuhan. Daun memiliki bentuk yang beragam sesuai dengan fungsi dan sifatnya, mulai sebesar daun pisang hingga sekecil duri kaktus. Daun itu hijau, teduh, dan memiliki banyak pelajaran untuk optimalisasi hidup bagi mereka yang mau mengambil pelajaran.

Daun itu mandiri. Ia tidak menggantungkan diri pada yang lain. Karenanya ia dapat memproduksi makanan sendiri. Daun itu cerdas. Ia pandai menyesuaikan diri. Karenanya ia dapat hidup mulai dari di daerah segersang padang pasir hingga mengambang di atas air. Dan daun itu produktif. Ia tidak menunggu dewasa untuk memberikan kebermanfaatan. Karenanya ia sudah dapat melakukan fotosintesis bahkan sesaat setelah tunas itu tumbuh.

Daun itu tidak egois. Ia tidak hanya mementingkan dirinya sendiri. Karenanya energi dan makanan hasil fotosintesis, dialirkan ke seluruh bagian tubuh tumbuhan, tanpa kecuali. Daun itu tahu balas budi. Ia menyadari bahwa ia ada berkat dukungan yang lain juga. Karenanya semakin rimbun daun, semakin kokoh pula akar yang menyerap air dan sari pati makanan, serta semakin kuat pula batang yang menyalurkannya. Daun itu santun. Ia mengubah keburukan menjadi kebaikan. Karenanya zat asam arang yang dapat menjadi racun melalui proses fotosintesis diubahnya menjadi oksigen dan energi yang bermanfaat.

Daun itu pemurah. Kebermanfaatannya dapat dirasakan luas, tidak hanya bagi tumbuhan yang ditinggalinya. Mulai dari hewan dan manusia yang menghirup oksigen hasil fotosintesis atau menjadikannya makanan yang menyehatkan, hingga kegunaannya sebagai bahan obat, pembungkus dan berbagai pemanfaatan lainnya. Daun itu indah, dengan beragam bentuk dan corak warna, menjadikan tumbuhan dan pepohonan tampak lebih hidup. Daun itu menyejukkan. Mengayomi dan menentramkan.

Daun itu tawazun (seimbang). Ia tidak berlebih – lebihan. Karenanya ia tidak layu karena kelebihan berproduksi atau pucat karena kekurangan makanan. Dan daun itu terus berkontribusi. Kontribusi yang terus terjaga kontinyuitasnya hingga mati. Kematiannyapun berprestasi. Dengan lebih dulu membentuk tunas baru. Bahkan ketika ia harus kering dan gugur, keberadaannya dapat menjadi pupuk yang menyuburkan tumbuhan yang pernah ditinggalinya…

Indahnya hidup jika filosofi daun tersebut dapat terinternalisasi dan terimplementasi dalam setiap diri kita. Kemandirian, produktifitas dan kebermanfaatan tentunya akan membuat hidup lebih bermakna. Namun hati – hati, ada pula daun yang berduri, membuat gatal, beracun ataupun menyebarkan bau busuk. Dan akhirnya pilihan itu ada di tangan kita.

Wallahu a’lam bi shawwab

No comment »

LATIHAN KESABARAN LEWAT UJIAN ONLINE

Dan bersabarlah, Karena Sesungguhnya Allah tiada menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Hud : 115)

Departemen Perindustrian (Depperin) Republik Indonesia membuat gebrakan dengan mengadakan seleksi CPNS online pada Sabtu, 18 Oktober 2008 lalu. Puluhan ribu pelamar harus mengikuti ujian online di situs ujian-online.depperin.go.id sesuai jadwal yang diberikan panitia, antara pukul 10.00 – 13.00 WIB. Sebagai anak Teknik Industri, saya tertarik untuk mencoba, walaupun sebenarnya ga yakin juga servernya Depperin cukup kuat menampung ribuan orang yang akan masuk bersamaan.

Singkat kata, setelah main futsal rutin di lapangan kantek setiap Sabtu pagi, saya berangkat ke rumah teman yang koneksi internetnya cukup cepat. Karena saya dapat jadwal pukul 11.00 – 11.35, saya baru mencoba masuk ke web ujian online jam 10.50. Tapi ternyata ga kebuka – buka walau udah direfresh dan ditungguin. Dengan default browser mozzila firefox, sempat terbuka halaman depannya, namun ketika saya input nomor registrasi dan password malah ”page cannot be displayed”. Akhirnya saya kirim email ke panitia dan teringat bahwa sempat dianjurkan untuk menggunakan internet explorer (IE). Sayapun coba masuk dengan browser IE. Setelah menunggu sekian lama, akhirnya berhasil masuk juga ke halaman utama.

Setelah memasukkan nomor registrasi dan password, sayapun berhasil masuk. Jam sudah menunjukkan pukul 11.10, artinya butuh sekitar 20 menit untuk bisa masuk. Dan terpaksa telat 10 menit dari jadwal. Saya mulai berpikir bagaimana nasib teman – teman yang di warnet, pasti stress berat nunggu web yang ga kebuka – buka. Hmm… ada 25 soal, tiap soal waktunya 1 menit. Pantas, di jadwal hanya 35 menit. Tapi bagaimana bisa kalo selambat ini. Sayapun meng-klik untuk mulai mengerjakan soal.

Soal nomor 1 keluar, ternyata soal pengetahuan umum yang tidak diperkirakan, terkait industri dan ekonomi makro dan saya sudah lupa. Jadi kepikiran, kalo sistemnya seperti ini bisa aja ”mengajak pasukan” untuk mengerjakan bersama – sama, dengan masing – masing membawa buku referensi. Atau meminta orang lain untuk mengerjakan. Hmm, tidak fair. Ya udah, saya jawab sebisanya saja untuk melihat model soal berikutnya, pilih lalu klik ’lanjut’. Namun ternyata waktu pengerjaan soal terus berjalan sementara loading begitu lambat. Karena mulai ga sabar, window saya minimize lalu saya coba klik lagi dari halaman awal untuk mengerjakan soal….

Berhasil. Masuk ke soal kedua, namun saya mulai berpikir apakah soal nomor 1 tadi dianggap sudah menjawab atau belum. Dengan cara yang sama saya kerjakan nomor 2, namun kali ini tak berhasil. Setelah window saya minimize lalu mengklik lagi dari halaman awal untuk mengerjakan soal, yang muncul langsung soal nomor 4. Hmm, menarik. Akhirnya saya tidak menggunakan cara yang sama untuk nomor 4, mencoba lebih bersabar. Saking sabarnya, jawaban baru saya pilih 10 detik terakhir, setelah mengklik ’lanjut’, waktu terus berjalan padahal lagi loading. Akhirnya saya dianggap kehabisan waktu, parah. Soal nomor 5 hitung – hitungan dapat diselesaikan dengan mudah tanpa mengulangi kesalahan kehabisan waktu karena loadingnya lama. Soal nomor 6 sulit, tanpa sadar waktu tinggal sedikit sementara loading belum menunjukkan progress, akhirnya saya klik ’lanjut’ sekali lagi. Akibatnya langsung masuk soal nomor 8. Hmm, semakin menarik…

Menyadari berbagai kegagalan sistem online yang pasti dirasakan oleh ribuan pelamar, saya mulai mengerjakannya dengan lebih bersabar sambil mengamati lamanya waktu idle pas loading. Hasilnya sekitar 12 detik. Beberapa kali ’kehabisan waktu’ juga, udah ga masalah, karena sistem ujian online ini memang masih butuh banyak perbaikan. Tidak adil jika dijadikan dasar seleksi, kecuali seleksi berdasarkan kesabaran =). Ujian pengetahuan umum sepertinya tidak cocok online tanpa web cam, rentan kecurangan. Tapi untuk psikotes atau ujian kesabaran kayaknya masih bisa =D. Singkat kata, setelah nomor 26 saya selesaikan, akhirnya tes selesai, pas adzan zhuhur. Artinya sekitar 45 menit dengan 26 soal, bukan 25. Aneh.

Malam harinya setelah silaturahim Pengmas BEM UI 0203, saya coba mencari respon dari ujian online yang sudah dilaksanakan. Hasilnya, beberapa blog dan situs sudah memuat ungkapan kekecewaan para pendaftar yang bahkan untuk masuk saja tidak bisa. Situs detikinet misalnya, sudah memuat tulisan bertajuk ”ujian online digelar, situs depperin terseok-seok” dengan puluhan comment berisi kekecewaan, bahkan caci maki. Nampaknya banyak yang tidak lulus ujian kesabaran, hehehe…

Di situs ujian online depperin sendiri hanya berisi ”PENGUMUMAN. Terima kasih atas keikutsertaan anda dalam ujian online Departemen Perindustrian. Hasil sementara yang kami peroleh terdapat 150000 hit per batch sehingga banyak para peserta mengalami kesulitan dalam pengaksesan dan mengikuti ujian online di web portal http://ujian-online.depperin.go.id hampir diseluruh kota di Indonesia. Untuk itu kami akan mengevaluasi hasil pelaksanaan ujian tahap I online dan selanjutnya akan kami beritahukan tindak lanjut pelaksanaan tahap berikutnya melalui website, e-mail atau sms. Saudara-saudara para pelamar dimohon dapat mengikuti perkembangan selanjutnya.” Hmm… cukup tau aja…

Dunia perindustrian tidak dapat dilepaskan dari penggunaan teknologi informasi, walau sudah jadi rahasia umum banyak petinggi pemerintahan yang ’gaptek’. Dunia industri juga terkait erat dengan pengaturan jadwal (shifting), riset operasi, perencanaan dan peramalan ataupun pengujian produk sebelum diluncurkan. Sayangnya hal tersebut tidak diaplikasikan dalam ujian online dan para pelamar menjadi korbannya. Memang ada harga yang perlu dibayar untuk sebuah pembelajaran, namun persiapan matang dan antisipasi cerdas seharusnya dapat meringankannya. Apalagi dalam hal ini, nama instansi dipertaruhkan. Kegagalan akan mempengaruhi kepercayaan publik yang merupakan modal penting suatu instansi pemerintahan. Yah, kita tunggu saja sikap bijaksana dan cerdas dari para pembuat kebijakan….

No comment »

BERGERAKLAH & BERBUAT SESUAI PERAN

Dan Katakanlah: ’Bekerjalah kamu, Maka Allah dan rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan’.” (QS. At Taubah : 105)

Pada tahun 607 H di Damaskus, tersebutlah seorang muslimah shalehah bernama Maisun yang belum lama ditinggal mati oleh empat saudaranya yang syahid dalam perang salib. Sebagai wanita, tak banyak yang dapat ia lakukan untuk membantu peperangan, namun ia merasa perlu melakukan sesuatu melihat penduduk Damaskus kala itu banyak yang berdiam diri karena merasa belum diserang. Ketika para wanita hadir berkumpul untuk memberikan bela sungkawa dan ta’ziyah, maka ia berkata kepada mereka, “Wahai saudariku, kita tidak diciptakan sebagai laki – laki untuk membawa pedang, tetapi jika para laki – laki takut untuk berperang, maka kitapun tak akan lemah untuk melakukannya. Demi Allah, inilah rambutku, harta paling berharga yang aku miliki. Akan aku jadikan tali kendali kudaku saat berperang di jalan Allah, semoga aku dapat menggerakkan orang yang hatinya telah mati.”

Maisun mengambil gunting dan memotong rambutnya, lalu para wanitapun melakukan hal yang sama. Kemudian mereka duduk untuk mengepangkan rambut agar menjadi tali kekang dan pengikat kuda perang yang kuat. Setelah itu mereka mengirim tali kekang dan ikatan tersebut kepada khatib masjid jami’ Al Umawi, Sabt Ibnul Jauzi yang kemudian membawanya ke masjid pada hari Jum’at. Sabt Ibnul Jauzi duduk di mihrab, dipegangnya tali serta ikatan itu sementara air matanya mengalir dan wajahnya pucat membiru. Orang – orang memperhatikan kejadian itu dan melihat satu sama lain. Ia kemudian berdiri dan berkhutbah dengan kata – kata yang mengobarkan semangat dan membakar hati orang yang mendengarnya. Berikut adalah beberapa kalimat yang masih dikenang oleh banyak perawi.

Wahai orang yang diperintahkan kepada mereka oleh agamanya untuk berjihad, sehingga dapat menaklukan dunia dan memberi petunjuk kepada seluruh manusia ke dalam agamanya, namun mereka berdiam diri sehingga musuh menaklukan negara mereka dan menyebarkan fitnah ke dalam agamanya! Wahai orang – orang yang nenek moyang mereka menjual jiwa mereka kepada Allah untuk dibayar dengan surga. Mereka membeli surga dengan ketamakan jiwa yang kecil dan kelezatan hidup yang hina!

Wahai manusia! Mengapa kalian melupakan agama kalian? Kalian tinggalkan kemuliaan dan berpaling dari menolong agama Allah, sehingga Allah pun tidak akan menolong kalian. Kalian menganggap kemuliaan hanya bagi orang – orang musyrik, padahal Allah telah menjadikan kemuliaan hanya bagi Allah, Rasul-Nya dan orang – orang beriman. Celaka kalian semua! Apakah pemandangan musuh Allah dan musuh kalian telah membuat kalian sakit dan jiwa kalian menjadi sedih? Mereka melangkah untuk merampas tanah kalian yang disirami oleh darah bapak – bapak kalian… Mereka hendak menghinakan dan memperbudak kalian, padahal kalian adalah pemimpin dunia!

Tidakkah menggerakan hati kalian dan membangkitkan semangat kalian bahwa saudara kalian telah terkepung musuh dan merasakan beraneka macam siksaan?! Apakah di negeri ini ada orang Arab?! Apakah di negeri ini ada seorang muslim?! Apakah di negeri ini ada manusia?! Orang Arab pasti membantu orang Arab lainnya, seorang muslim pasti membantu orang muslim lainnya dan manusia pasti memberikan kasih sayang kepada manusia lainnya. Maka barangsiapa yang tidak tergerak untuk membela Palestina, dia bukanlah orang Arab, bukan seorang muslim dan bukan manusia! Apakah kalian makan, minum dan bersenang – senang, sedangkan saudara kalian menghadapi berbagai penyiksaan, menerjuni kobaran bara api dan tidur di atas bara api?

Wahai manusia, kecamuk peperangan telah berputar, seruan jihad telah memanggil dan pintu – pintu langit telah terbuka. Jika kalian tidak termasuk pasukan perang berkuda, maka izinkanlah para wanita untuk menerjuni kancah peperangan ini. Pulanglah kalian lalu ambilah kompor dan tempat masak kalian… Ambilah kerudung dan jepitan rambut, wahai para wanita!!

Pertama… ambilah kuda perang dan inilah tali kendali dan tali kekangnya. Wahai manusia… tahukah kalian dari apakah tali kendali dan ikatan ini dibuat? Tali dan ikatan ini dibuat oleh para wanita dari rambut mereka karena mereka tidak memiliki sesuatu yang dapat mereka berikan untuk Palestina. Demi Allah inilah tali kepang yang memabukkan, yang tidak dapat dipandang hanya dengan pandangan matahari yang selalu terjaga. Mereka menjalin tali ini karena sejarah kecintaan telah berakhir. Sejarah baru tentang perang suci telah dimulai, perang di jalan Allah serta perang mempertahankan tanah dan kehormatan. Jika kamu tak mampu memberikan kudamu, maka ambilah tali ini dan untailah menjadi kepangan dan sanggul. Inilah wujud perasaan wanita, masihkah tersisa perasaan dalam diri kalian?”

Dia menyampaikan khutbahnya dari atas mimbar di hadapan banyak orang dan berteriak, ”Terbelahlah wahai kubah An Nasr, runtuhlah wahai tiang – tiang masjid, dan terangkatlah wahai tumpukan batu, para laki – laki telah kehilangan keberanian mereka!!!” Terdengarlah teriakan manusia yang belum terdengar sebelumnya, mereka meloncat mengharap kematian sebagai syahid. Maka datanglah kemenangan yang nyata aras usaha seorang wanita yang telah membangkitkan umat dari tidurnya…

* * *

Saudaraku, saya tidak hendak mengupas tentang peran muslimah dalam membangun peradaban, hanya sebuah pengingatan bahwa suatu kesuksesan hanya dapat diraih dengan perbuatan. Suatu impian besar hanya dapat diwujudkan dari sinergitas komponen – komponen penyusunnya dalam kontribusinya sesuai peran. Sesungguhnya kemenangan takkan tercipta dari sikap berpangku tangan, harus ada gerak dalam kontribusi sesuai peran. Harus ada wanita seperti Maisun dan laki – laki seperti Sabth Ibnul Jauzi. Dan sesungguhnya sikap berdiam diri bukan hanya tidak produktif dan melemahkan perjuangan bahkan kontraproduktif ibarat menembakkan peluru ke dada saudara – saudara kita…

Saudaraku, sesungguhnya Allah mengetahui kekurangan diri kita dan kelemahan amal kita, namun itu bukan alasan untuk meninggalkan kontribusi kita. Seorang Maisun tidak diminta untuk terjun langsung ke medan perang, namun bukan berarti tidak ada yang dapat dilakukan. Seorang Sabth Ibnul Jauzi juga hanya berkewajiban menyampaikan dan mengingatkan sesuai dengan peran yang diembannya. Sesungguhnya Allah tidak membebani kita di luar kemampuan kita. Kita hanya dituntut berbuat sebatas kemampuan optimal kita, tidak lebih. Jika seorang Abu Bakar dapat menginfaqkan seluruh hartanya fisabilillah dengan hanya menyisakan Allah dan Rasul-Nya untuk keluarganya, mungkin kita belum dituntut berkontribusi sejauh itu, namun bukan berarti tidak ada kontribusi sama sekali.

Saudaraku, mari kita bergerak dan berkontribusi sesuai kemampuan optimal kita….

Wallahu a’lam bi shawwab

Demi penciptaan laki – laki dan perempuan. Sungguh, usahamu memang beraneka macam” (QS. Al Lail : 3 – 4)

Comments (1) »

BELAJAR MEMAAFKAN, BUKAN (CUMA) MEMINTA MAAF

JADILAH PEMAAF, JANGAN CUMA BISA MINTA MAAF

˜Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh” (QS al-A’raaf: 199)
 

“Memaafkan tidaklah menambah apa-apa kepada seorang hamba, kecualai kemuliaan. Oleh sebab itu perbanyaklah kalian memaafkan, niscaya Allah akan memuliakan kalian.” (HR Ibnu Abiddunya).

Menjelang Idul Fitri (juga menjelang Ramadhan tiba), banyak orang yang ramai minta maaf. Bahkan kurang lengkap rasanya ucapan ”Selamat Idul Fitri” tanpa embel – embel ”Mohon maaf lahir batin”. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan budaya saling meminta maaf karena secara adab ketika kita melakukan kesalahan kepada orang lain sudah sepatutnya kita meminta maaf. Namun sebenarnya ada hal yang lebih penting yaitu saling memaafkan, baik memaafkan orang lain maupun memaafkan diri sendiri.

Memaafkan adalah salah satu sifat mulia yang dianjurkan Al Qur’an (QS. Asy Syura : 43) bahkan menjadi salah satu ciri orang beriman (QS. Ali Imran : 134). Walau kadang terhambat gengsi namun meminta maaf itu relatif mudah dan mengatakan ”saya sudah memaafkan” mungkin juga tidak sulit. Namun benar – benar membebaskan diri dari rasa benci, marah dan dendam tidaklah mudah. Padahal disitulah esensi memaafkan. Sikap pemaaf adalah suka memberi maaf terhadap kesalahan orang lain tanpa ada sedikitpun rasa benci dan keinginan untuk membalas. Dalam konteks bahasa, memaafkan berarti menghapus luka atau bekas-bekas luka yang ada di dalam hati.Untuk menjadi pemaaf sejati memang butuh sikap ksatria, seperti kata Sherina, ”… setiap manusia di dunia pasti punya kesalahan, hanya yang berjiwa ksatria yang mampu memaafkan…

 

Memaafkan Orang Lain

Tidak mudah memang menyembuhkan luka batin atau perasaan dan melupakan orang yang sudah menyakiti perasaan kita, apalagi jika kita direndahkan di depan umum. Rasa kesal dan kecewa yang begitu menghujam di hati hanya akan menjadi beban yang takkan berbuah kebaikan, malah bisa jadi penyakit. Sebenarnya ketika kita menyadari tak ada manusia yang sempurna dan terlepas dari kesalahan maka tak ada alasan bagi kita untuk tidak memaafkan. Bahkan ketika orang yang berbuat salah kepada kita tidak berubah dari kejahiliyahannya, juga tidak dapat menjadi alasan untuk belum memaafkannya. Tugas kita sekedar mengingatkan bukan memberi hidayah, jangan sampai kejahiliyahan justru tertular ke kita.


Dari Uqbah bin Amir, dia berkata, Rasulullah saw. bersabda, ”Wahai Uqbah, bagaimana jika kuberitahukan kepadamu tentang akhlak penghuni dunia dan akhirat yang paling utama? Hendaklah menyambung hubungan persaudaraan dengan orang yang memutuskan hubungan denganmu, hendaklah engkau memberi orang yang tidak mau memberimu dan maafkanlah orang yang telah menzhalimimu” (HR Ahmad, al-Hakim dan al-Baghawy). Perhatikan kisah Nabi Yusuf yang memaafkan saudaranya yang telah mencoba untuk membunuhnya. Atau Rasulullah SAW yang memaafkan orang yang meludahi dan melempari beliau dengan kotoran. Atau ketika seruan kebaikan beliau dibalas dengan lemparan batu penduduk Thaif sehingga Jibrilpun geram dan hendak menimpakan gunung atas mereka, namun Rasulullah memaafkannya.

Belajar dari kisah diatas, jika kezhaliman yang kita rasakan belum seberapa rasanya tak layak bagi kita untuk tidak memaafkan. Dan bagaimana mungkin kita yang sering berbuat dosa tidak dapat memaafkan orang lain sementara Allah terus memaafkan dosa kita dengan tidak begitu saja mencabut nikmat-Nya. Pemahaman inilah yang kemudian menyadarkan seorang Abu Bakar untuk memaafkan dan tidak melaksanakan sumpah untuk tidak memberi apa-apa kepada kerabatnya yang terlibat dalam menyiarkan berita dusta tentang Aisyah (QS.An Nur : 22). Sedemikian mulianya sikap memaafkan, tak heran dalam sebuah kisah diceritakan bahwa ada seseorang yang oleh Rasulullah disebut sebagai calon ahli syurga, dan ketika salah seorang shahabat menyelidikinya ternyata amal istimewanya adalah selalu memaafkan, berlapang dada dan tidak menyimpan sedikitpun kedengkian terhadap saudaranya.

Memaafkan Diri Sendiri

Tidak ada manusia yang luput dari kesalahan dan sebaik-baik orang yang berbuat salah ialah yang menyadari kesalahannya dan memperbaikinya. Ketika kita berbuat salah pada orang lain, kita seharusnya segera meminta maaf pada orang itu. Orang itu kemudian bisa jadi sudah memaafkan, namun kita sendiri kerap masih dibebani rasa bersalah dan belum dapat memaafkan diri sendiri. Menyalahkan diri sendiri jelas bukan solusi bahkan hanya menunjukkan kelemahan kita menyikapi takdir Allah SWT. Selain meminta maaf, sikap seharusnya dalam menyikapi kesalahan kita adalah dengan tidak mengulangi perbuatan salah tersebut, memperbanyak amal shaleh dan menerima yang telah terjadi sebagai bagian dari skenario Allah SWT. Nah, yang terakhir ini kadang terlalaikan sehingga tak jarang kita masih dihantui mimpi-mimpi buruk yang membuat kita krisis percaya diri.

Krisis percaya diri sebagai akibat dari sulitnya kita memaafkan diri sendiri ini akan menjadi momok yang menakutkan. Kita akan selalu menganggap diri kita tidak berguna, lemah, bodoh, tidak bisa apa-apa, minder dan lain sebagainya. Kalau sudah seperti ini, kita jadi sensitif, sempit hati, curigaan, gelisah, terlalu mengagungkan orang lain dan berbagai sikap negatif yang hanya merugikan diri sendiri. Bahkan lebih jauh lagi, keadaan ini akan membuat kecenderungan untuk mencari jalan pintas sebagai pelarian yang bisa jadi menimbulkan masalah baru. Yang seharusnya dapat dilakukan adalah berdamai dengan kenyataan tanpa harus melupakan kesalahan yang pernah kita lakukan. Kita memang tidak bisa mengubah yang sudah terlanjur terjadi namun kesempatan untuk membenahi diri itu masih ada dan akan selalu ada.


Kesalahan seharusnya dapat menjadi pengingat agar ke depan dapat lebih baik bukan justru menimbulkan rasa bersalah yang terus menerus, takut berbuat kesalahan lagi dan kehilangan kepercayaan diri.
Ketidakmampuan kita untuk memaafkan diri sendiri bisa menjadikan kita terhenti, tidak bisa maju dalam melanjutkan hidup. Dr. Phil McGraw, psikolog Amerika mengatakan bahwa kita punya pilihan untuk menjadi orang yang menyedihkan karena memikirkan rasa bersalah itu terus menerus atau mengizinkan diri sendiri untuk sembuh dan mencoba menjadi pribadi yang lebih baik. Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk berdamai dengan diri sendiri adalah membuka hati dan pikiran, memberi pilihan kepada diri sendiri untuk kembali mencintai, menghadapi rasa bersalah dan coba memahaminya, mengizinkan diri untuk menyembuhkan diri dan membuat suatu hubungan baru. Sudah semestinya kita buang rasa takut atas sesuatu yang belum tentu terjadi. Menatap jauh ke depan karena masih banyak lahan kebaikan yang bisa kita tanami. Jika Allah SWT bisa mengampuni kita, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak bisa memafkan diri sendiri. Memaafkan diri sendiri memang tidak mudah, membutuhkan keberanian dan keteguhan hati yang besar serta kadang tidak bisa dilakukan sendiri.

* * *

Hasil penelitian dari sejumlah ahli jiwa di seluruh dunia menyimpulkan bahwa orang-orang yang memelihara ’sakit hati’ benar-benar menjadi sakit organ hatinya (lever). Juga telah banyak diketahui bahwa para pasien kanker dan penyakit berat lain bisa mencapai kesembuhan hanya karena melepas amarahnya secara sadar dengan cara memaafkan orang-orang yang membuatnya sakit hati dan memendam amarah yang membuatnya menderita luka batin. Para ilmuwan Amerika telah membuktikan bahwa orang yang mampu memaafkan lebih sehat baik jiwa maupun raga. Orang-orang yang diteliti menyatakan bahwa penderitaan mereka berkurang setelah memaafkan orang yang menyakiti mereka. Telah dibuktikan bahwa gejala-gejala kejiwaan dan tubuh seperti sakit punggung akibat stress, susah tidur dan sakit perut sangatlah berkurang pada orang-orang ini. Dalam bukunya, ’Forgive for Good’, Dr. Frederic Luskin menjelaskan sifat pemaaf memicu terciptanya keadaan baik dalam pikiran seperti harapan, kesabaran dan percaya diri dengan mengurangi kemarahan, penderitaan, lemah semangat dan stres.

Cinta dan memaafkan adalah dua hal yang saling mendukung untuk hidup damai sejahtera, sehat lahir batin. Memaafkan bukanlah sebuah perasaan, tetapi sebentuk tindakan, sebentuk kemauan dari diri seseorang. Kita bisa memaafkan jika kita menghendakinya. Jika tidak, kita sendiri yang akan merasakan konsekuensi dari memelihara ingatan yang membuat kita sempit hati. Memaafkan adalah salah satu perilaku yang membuat orang tetap sehat, dan sebuah sikap mulia yang seharusnya diamalkan setiap orang Memaafkan adalah suatu karunia terindah dalam hidup seseorang, baik memaafkan diri sendiri maupun memaafkan orang lain, walau tidak banyak di antara kita mampu melakukannya dengan mudah.

Wallahu a’lam bi shawwab

"...dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. An Nuur :22)
 

“Kita harus saling memaafkan dan kemudian melupakan apa yang telah kita maafkan” (Andrew Jackson)

Comments (1) »