Menanti Lahirnya SDM Unggul melalui Pendidikan
Berbagai data di atas hanyalah sebagian kecil dari prestasi yang pernah tertoreh. Belum lagi berbicara tentang BJ Habibie, mantan presiden RI dengan hak paten baling – balingnya atau Prof Nelson Tansu PhD, fisikawan dan rekayasawan kelahiran Medan yang pada usia 25 tahun menjadi profesor termuda di wilayah East Coast, AS dengan berbagai prestasi akademiknya. Jelas dari sisi ’bibit’ personal bangsa Indonesia tak kalah berkualitas dengan bangsa lain. Potensi keunggulan sebenarnya dimiliki. Dilihat dari anggaran pengembangan IPTEKpun, setiap tahun alokasinya meningkat, walaupun memang belum optimal dalam pemanfaatannya. Namun permasalahan utama adalah terkait sistem yang ada dan diterapkan dipadu dengan mentalitas dan moralitas yang tidak unggul.
Menurut DR. Eric J. Heikkila, tiga aspek penting dalam HDI adalah kesehatan, pendidikan dan pendapatan. Hal serupa juga ditunjukkan dalam GBHN 1993, dimana manusia unggul yang dicita – citakan adalah yang sehat dan berumur panjang (indikator : life expectancy rate); cerdas, kreatif, terampil, terdidik, bertaqwa (indikator : tingkat pendidikan); mandiri dan memiliki akses untukhidup layak (indikator : kemampuandayabeli). Dilihat dari aspek kesehatan, berdasarkan data BPS 2007, Angka Kematian Bayi (AKB) dan Angka Kematian Ibu (AKI) Indonesia masih cukup tinggi, yaitu AKB sebesar 26,9 per 1000 kelahiran hidup dan AKI sebesar 248 per 100.000 kelahiran hidup serta Umur Harapan Hidup 70,5 Tahun (BPS 2007). Derajat kesehatan yang masih tendah tersebut dipengaruhi oleh akses untuk memperoleh layanan kesehatan, terutama bagi masyarakat miskin. Akses tersebut meliputi informasi, jarak, sarana dan biaya. Namun ketika berbicara tentang kualitas hidup sehat, ternyata pengetahuan dan kesadaran hidup sehat serta kondisi lingkungan menjadi faktor penting yang membentuk perilaku hidup sehat. Karenanya, layanan kesehatan promotif dan preventif perlu untuk terus dikembangkan.
Dilihat dari kesejahteraan sosial, kesenjangan masih menjadi masalah utama yang bermuara pada kelemahan pengelolaan sistem dan rendahnya moralitas. Di kelas atas terjadi rendahnya sensitifitas sosial dan tingginya keserakahan. Di kelas bawah terjadi kemiskinan kultural, bukan hanya miskin materi tetapi juga miskin jiwa. Sementara kebijakan dan birokrasi belum jua menjadi solusi.
Seperti yang diungkapkan B.S.Wibowo, manusia berkualitas adalah yang unggul secara fisik, intelektual, emosional dan moralitas. Perlu banyak pembenahan untuk mencetak SDM yang berkualitas, pembenahan yang terencana dan terintegrasi. Dan pendidikan memegang peran penting dalam pembenahan ini. Pembinaan fisik, intelektual, emosional dan moralitas yang integratif hanya dapat dijalankan dengan sistem pendidikan yang mendukung. Permasalahan pengetahuan, pemahaman, karakter dan mentalitas tidak dapat diselesaikan hanya dengan pemberian BLT, otokrasi kebijakan ataupun pendirian bangunan – bangunan fisik tanpa ruh. Bagaimanapun, pendidikan akan membentuk sikap dan daya juang serta kapasitas personal yang penting guna meningkatkan daya saing secara komunal.
Pendidikan merupakan proses memanusiakan manusia, yang harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi zaman. Karenanya pendidikan dapat diperoleh dimanapun, kapanpun dan oleh siapapun. Pendidikan berupa pembiasaan dapat diperoleh melalui keluarga. Pendidikan berupa pembentukan nilai-nilai, pengetahuan dan keterampilan terhadap bidang studi dapat diperoleh lewat sekolah/ lembaga pendidikan formal. Sedangkan pendidikan tentang pengalaman hidup dan penanaman serta pewarisan budaya diperoleh dari masyarakat. Kesemuanya harus saling melengkapi dan menguatkan.
Elemen penting dalam membentuk pendidikan berkualitas adalah pendidik, sistem pendidikan, lingkungan dan lembaga pendidikan. Pada dasarnya tidak ada bahan baku yang buruk, kesalahan pada prosesnyalah yang menyebabkannya jadi buruk. Bagaimanapun, tidak ada manusia yang tak memiliki potensi dan kelebihan, tinggal bagaimana pendidik, sistem pendidikan, lingkungan dan lembaga pendidikan dapat bersinergi dalam menghasilkan yang terbaik. SDM unggul hanya lahir dari rahim yang berkualitas.
Penyiapan pendidik yang berkualitas harus dilakukan untuk menghasilkan peserta didik yang berkualitas. Dalam konteks pendidikan, peserta didik biasanya mengadopsi mentalitas, pemikiran, pengetahuan, wawasan dan sikap dari pendidiknya. Dilihat dari sisi pendidik, penyiapan ini berarti refleksi keikhlashan niat, semangat dan kesungguhan. Dilihat dari sisi lembaga pendidikan, penyiapan ini dapat berarti pembekalan dan penghargaan. Sedangkan dari sisi pemerintah, penyiapan ini terkait dengan apresiasi dan kesejahteraan.
Sistem pendidikan yang berkualitas harus dilaksanakan untuk membentuk SDM unggul. Sistem pendidikan yang jujur dan berkeadilan. Sistem pendidikan yang memiliki visi bukan dijalankan seadanya. Sistem pendidikan yang mencerdaskan bukan membodohi, menyenangkan bukan membebani. Sistem inilah yang akan memberikan arah dan membentuk karakter pandidikan. Karenanya sistem pendidikan harus integratif agar dapat memberikan pemahaman yang utuh, namun memfasilitasi bakat dan potensi pembangun kompetensi yang mungkin lebih spesifik. Sistem pendidikan yang lebih manusiawi. Sistem yang tak hanya mengukur kualitas dengan IQ tapi juga emosional dan moral. Sistem pendidikan yang tidak hanya berupa proses peningkatan kemampuan pengetahuan intelektual dan teknologi, tetapi juga harus memiliki prinsip dan nuansa perkembangan kebudayaan dan peradaban.
Lingkungan memegang peranan penting dalam pembentukan karakter guna mewujudkan SDM berkualitas. Pembinaan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat melalui penyadaran, pemahaman dan partisipasi menjadi penting dalam upaya peningkatan kualitas masyarakat. Pengondisian lingkungan ini hendaknya dimulai dari level keluarga sebagai madrasah pendidik generasi, untuk kemudian dikembangkan ke lingkup yang lebih besar. Pendidikan harus memasyarakat. Mendidik masyarakat dan memasyarakatkan pendidikan.
Selanjutnya, impian besar takkan dapat terwujud tanpa kerja sama dan pengorganisasian. Dalam hal inilah lembaga pendidikan memegang peran penting dalam mencetak SDM unggul. Karena lembaga akan mengorganisasikan peserta didik, pendidik, merode dan sistem pendidikan dengan tidak melupakan variabel lingkungan. Visi besar pendidikan yang akan membawa kebermanfaatan lebih besar seharusnya dapat terinternalisasi ke selurih lembaga pendidikan sehingga dapat berperan sebagai mitra yang saling berkompetisi dalam berprestasi.
Pendidikan yang berkualitas akan memastikan berjalannya semua fungsi dan peran komponen penyusunnya dengan seimbang. Peran pendidik sebagai teladan dan akademisi. Peran peserta didik sebagai entiti perbaikan masa depan dan kaum intelektual. Peran lembaga pendidikan sebagai penyemai dan penyebar gagasan, pendapat dan pemikiran; sebagai penyebar kemajuan ilmu dan peradaban; sebagai penyemai potensi keilmuan dan kepemimpinan; sebagai penjaga moral bangsa dan pembela masyarakat.
Penutup : Bukan Sebatas Angan
Peningkatan pengetahuan dan pembinaan mentalitas memang butuh effort keras, bamun hasilnyapun akan sebanding dengan perjuangan yang dikeluarkan. Perbaikan pendidikan mungkin akan menghadapi banyak kendala, namun bukan jadi alasan untuk mundir dari cita – cita mulia. Pembentukan SDM berkualitas memang tidak semudah membalikan telapak tangan, namun hal itu dapat dan harus dilakukan untuk masa depan yang lebih baik. Perbaikan menyeluruh memang tidak akan mudah, apalagi upaya perusakan terus terjadi. Amal nyata memang tak semudah kata, apalagi sebatas angan. Namun tak ada impian yang tak dapat diwujudkan. Jika realita dapat mengalahkan impian, tak ada alasan impian tak dapat merubah kenyataan.
Segalanya harus diawali dengan kejernihan hati dan pikiran untuk kemudian didudkung dengan keberanian untuk berbuat. Kesungguhan dan kerja cerdas akan menjadi syarat selanjutnya untuk mencapai apa yang diimpikan. Mungkin masih banyak evaluasi lain yang dapat dipelajari serta solusi yang dapat direkomendasikan untuk membentuk pribadi dan komunitas berkualitas. Tentang kesabaran dan keteguhan, perencanaan matang, kepemimpinan yang adil, berkarakter dan dapat jadi teladan hingga menjadi pribadi yang solutif dan produktif. Namun berbagai pembelajaran dan rekomendasi itu tidak akan sempurna tanpa upaya konkret perbaikan. Sudah cukup lama bangsa ini terhina dan disepelekan, saatnya menaklukan dunia. Dan tidak ada kata terlambat untuk melakukan perbaikan. Melakukan perbaikan atau Indonesia tinggal kenangan, mungkin itulah dua pilihan takdir yang ada di depan. Membawa misi perbaikan memang tidak mudah karena sifatnya yang unik dan butuh energi besar dari para pengusungnya.
Namun kita percaya bahwa perbaikan akan menimbulkan ekspektasi dan harapan yang muncul karena getaran-getaran emosi kemenangan. Kemenangan yang memang harus ditebus dengan pemahaman, keikhlashan, amal nyata, kesungguhan, pengorbanan, kedisiplinan, keteguhan, kemurnian, persaudaraan dan kepercayaan. Dan pengorbanan yang sudah dilakukan tidak akan sia-sia. Dan kepuasan batin akan menjadi suatu ganjaran yang layak atas segala kelelahan. Dan akhirnya hanya kepada Allah lah segala sesuatu akan dikembalikan. Siap? Saya siap! Ayo kita berangkat!!
Jika Anda menetap di suatu tempat untuk beberapa hari saja, mulailah belajar menanam padi.
Jika Anda berfikir menetap untuk jangka waktu lebih panjang lagi, mulailah menanam pohon.
Jika Anda berpikir menetap selama-lamanya, mulailah dengan mendidik manusianya.
(Confusius)
Wallahu a’lam bi shawwab